Kamis, 22 Januari 2009

Waktu Yang Abadi

Oleh Fatah Yasin Noor

Sepagi itu sebujur cacatan hinggap di ranting basah. Pohon nangka seperti ingin menyisih dari kuburan. Ia membisikkan selamat pagi padaku. Salat subuh dua rakaat tadi telah membentuk gelembung udara. Catatan-catatan menggeriap, menggetarkan waktu yang senantiasa mengajak beku. Sebujur catatan itu masih menguapkan mimpi semalam. Aku tahu roda kehidupan ini terus berputar. Secara filosofis, waktu akan terus abadi. Kita yang fana.

Pohon nangka di halaman rumah itu secara perlahan, terus bergoyang. Ia menari bersama angin pagi. Mendung bergantungan di langit. Aku lihat dari balik jendela. Jalan di depan rumahku masih sepi. Tampaknya banyak tetangga yang enggan keluar rumah. Boleh jadi mereka masih terlelap di pulau kapuk. Sepagi ini, dan cuaca yang kurang bersahabat. Jam empat lima belas menit. Jam dinding menempel di ruang keluarga, tak bisa bergerak.

Sebujur catatan itu seperti ingin merangkum puisi. Aku dibikin cemas dan kelabakan. Butir-butir doa telah kulambungkan. Siapa tahu ia telah sampai ke langit. Dari gerak ritual yang takzim. Tapi kata-kata telah meluncur ke udara. Sebentar lagi berhenti sendiri. Notok pada tembok kebuntuan yang permanen. Mereka percaya bahwa karya bukan sesuatu yang instan. Kesetiaan dan kehampaan terus berkecamuk di situ.

Aku menyiapkan sarapan pagi, sendiri, tanpa anak dan istri. Aku pikir pagi sangat menyuakai tema kesyahduan. Ketika embun belum beranjak pergi. Dan kicau burung yang mengucapkan salam. Doaku pagi ini agar selalu mendapat petunjuk, menemukan sejumlah gagasan dari sebuah bahasa yang tengah bangun dari tidurnya. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang pengarang selain melihat bagaimana kata-katanya mengalir deras bersama air bahasa yang bersumber dari dalam dirinya.

Hanya waktu yang abadi. Sebujur kalimat yang terus-menerus ingin merangkum puisi. Geliat kehidupan yang berawal dari kata, dan berakhir dari kata. Seperti seseorang yang telah mengisi pulsanya untuk bisa menghubungi sejumlah kawan-kawannya. Ada sesuatu yang mesti diberitakan. Kekosongan itu lama baru bisa kita isi. Memang belum se abad, tapi rasanya sudah ribuan tahun. Tiba-tiba bahasa itu berganti, kita terpaksa kembali belajar membaca dengan tertatih-tatih. Tertatih-tatih selama berabad-abad. Bahasa baru yang susah menjelaskan realitas. Bahasa yang unsur-unsurnya langsung dipetik dari pohon kuldi. Dengan bahasa itulah aku berjalan. Menelusuri terang dalam kegelapan.

Maka lihatlah, bagaimana orang-orang mengiris semangka. Sore yang ganas itu air matanya bercucuran bersama keringat dingin. Kata-katanya hanyalah pengulangan tanpa makna. Mulutnya selalu terbuka dan dikerubungi lalat hijau. Gajah di seberang lautan tak tampak, lalat di depan mata juga tak tampak. Menangis adalah jalan satu-satunya untuk menyesali diri sendiri. Ada yang berdoa dengan mata terpejam. Hanya bunyi grenang-greneng tak jelas. Napsu menulisnya yang menggebu akhirnya longsor di tengah jalan. Tak ada yang bisa diselamatkan.

Ribuan buku telah dibakar habis. Abad kegelapan menyelimuti seluruh dunia. Indonesia tenggelam. Penduduknya megap-megap kehabisan oksigen. Kecemasan juga menempel di tembok-tembok rumah ibadah. Takmir masjid hanya jadi penunggu yang membosankan. Para jamaah lari entah kemana. Buletin Jumat tidak terbit lagi. Tak ada amal usaha selain dari infaq yang jumlahnya semakin menyusut. Padahal, kalau mau pasti bisa, kata petinggi. Celakanya semua cuma mau mencuri. Pohon-pohon di halaman rumah ibadah itu menggigil. Kuburan di halaman depan masjid kembali menggumam. Bau busuk menyebar sampai ke dalam mihrab.

Sumbangan dari nonmuslim untuk pembangunan masjid ditolak. Konon ada roh gentayangan di situ. Lampu padam, malam jadi semakin gelap gulita. Samsudin kehabisan ide, tak tahu apa lagi yang harus ditulis. Sebab tumbuh pengertian baru dari semua kata. Salah paham semakin merajalela. Banyak orang kepingin begini, yang keluar begitu. Orang-orang sembahyang dirumahnya masing-masing. Sepeda motor keluaran terbaru melirik pejalan kaki. Etalase kaca di show room itu semakin bercahaya. Politik ekonomi rakyat dirancang para petinggi. Kebutuhan hidup terus digoyang dengan iklan. Buku-buku tentang manfaat materi berjejer-jejer di toko buku dan lapak-lapak. Komputer bisa menulis dan berpikir sendiri, mengalahkan pikiran manusia?

Konsentrasinya pada buku yang tengah dibaca buyar seketika. Suara kresek-kresek di dalam tembok. Ia sadar ini menjelang magrib. Di rumah besar itu ia tinggal sendirian. Tak ada bokong semok yang melintas di ruang keluarga. Tak ada lagi jeritan anak-anak. Ia mencoba kembali membaca, tapi sia-sia. Kasihan, ia teringat anak-anaknya. Ia juga teringat kedua orang tuanya. Adakah orang tua yang tidak perhatian pada anak-anaknya? Kebutuhan hidup anak-anak memang belum seberapa. Kelak anak-anaknya akan berbakti kepada orang tuanya.

Aku rela tiak kawin lagi demi anak-anak. Siap berkorban menunda kesenangan dalam keprihatinan. Orang melarat dilarang senang. Mungkin aku setuju orang miskin dilarang kawin. Mencukupi keperluan hidup sendiri saja dulu. Hidup bisa diprediksi lewat ilmu pengetahuan. Bukan berarti kita tak mempercayai adanya mukjizat. Wawasan perlu diperluas dengan melihat keanekaragaman hayati. Boleh juga membaca paradigma baru yang berkembang secara mutakhir.

Orang-orang pada khusuk sembahyang. Pengarang masih setia melungsurkan karya-karyanya. Pikiran dipacu memecahkan fenomena kehidupan yang kompleks ini. Teruskan saja beribadah dengan ikhlas. Segala pandangan filsafat dicerna dengan rasionalitas. Tapi kasihan, tokoh kita tengah bersedih. Ia baru saja ditinggal ayahnya tercinta. Buku sastra, sejarah, filsafat, dan pengetahuan umum lainnya ditinggalkan. Ia hanya tahu bahwa etos dan kesetiaan pada hidup akan terus berkobar. Secara perlahan tapi pasti, perubahan dirinya dalam menulis selaras dengan perkembangan wawasannya. Kini ia banyak berkontemplasi. Kematian bapaknya menjadi sesuatu yang menuntun pikirannya untuk memahami soal misteri maut.

Tanpa terasa ia telah menyelesaikan tulisan panjang, dalam satu napas. Tanpa ada yang memerintah ia menulis catatan-catatan lepas dengan pelbagai tema. Bahasa menyediakan estetikanya yang mengasikkan. Penceritaan dengan gaya solilokui dikomparasikan dengan bentuk-bentuk yang lain. Pembaca boleh terharu bukan lantaran apa yang diceritakannya, tapi karena ia sanggup menulis seperti itu. Ada kemungkinan setiap pengarang mengidap szirofrenia. Ia menulis dalam kegilaan yang taktepermanai.

Sering kali ia menyatakan, bahwa menulis tak lain ialah perang dengan diri sendiri. Kalimat demi kalimat yang ditulis adalah dunia perih pengarang. Karena pengarang harus omes berkutat dengan sekian banyak gagasan dan ide dalam lorong gelap bahasa. Celakanya, semua pengarang akhirnya menyerah kalah. Ia kalah oleh waktu yang abadi. Sementara itu bahasa, kita sadar, akan dimakan waktu. Setiap zaman memiliki bahasa pengucapannya yang selalu berubah. Demikian pula terhadap kehadiran bahasa komputer yang senantiasa terkesan tetap, tapi dalam perkembangannya selalu berubah juga. Pengarang memang selalu memaksakan dirinya untuk terus menulis.

Akhirnya, pengarang berpikir juga soal konsep. Ada bahan dasar yang selalu diolah dalam masakan kata. Semacam adonan kalimat yang masih berupa masakan setengah jadi. Bumbu-bumbu kalimat itu seyogianya tak berlebihan, sehingga masakan bisa dinikmati dengan sedap dan gurih. Kata-kata yang pedas dan pengucapan yang asin hendaknya tak terlalu banyak di masukkan kedalam teks. Pengarang yang baik adalah koki yang berpengalaman. Celakanya banyak pengarang yang sering terlambat makan. Kadang ia asik dengan dirinya sendiri, sehingga masakan di depannya menjadi kering karena lama di atas api kontemplasi.

Kemarin aku bikin nasi goreng dengan lalapannya, irisan timun, potongan tomat dan daging ayam yang digunting kecil-kecil. Aku lihat para penjual nasi goreng juga begitu. Di tengah malam, kadang mie tek-tek lewat depan rumah. Selalu, sakit perut disebabkan oleh makanan. Banyak orang meninggal karena sakit perut. Mestinya, segala makanan yang masuk ke perut kita dijaga kebersihannya dan - yang penting - halal.

Catatan-catatan lepas seperti itulah yang selalu muncul di media massa. Ada berita langsung, berita ringan, dan berita kisah. Sebagai penulis, ia bisa membuat segala bentuk berita, termasuk berita yang jatuh dari langit. Ratusan media massa cetak dan elektronik menjaring para calon penulis yang kelak menjadi handal dengan nalurinya sebagai pemburu berita. Setiap hari, jadwal pelatihan membuat berita yang efektif, efisien, dan enak dibaca terus digelar sejumlah lembaga. Karena menulis ada teorinya, maka setiap calon penulis mesti menguasai teori itu. Mau tak mau semua peserta belajar dari nol lagi. Mengerjakan soal-soal dengan benar. Dulu, ia pernah ikut kursus menulis itu. Hasilnya, sekarang ia bisa menulis secara otomatis. Teori-teori dipelajari untuk kemudian dilupakan. Ia bisa membuat cerita berdasarkan berita yang muncul di media massa.

Alkisah, pada suatu hari, saat burung-burung berkicau di pagi yang ranum, ada sesuatu yang terasa mencair dalam jiwanya. Orang-orang masih pergi ke pasar seperti biasanya. Musim hujan telah tiba beberapa pekan yang lalu. Ia lebih senang berdiam di loteng rumahnya, membuka www. Banyuwangi online.com. Sejumlah puisi rekan-rekannya ia masukkan di situ. Kebiasaan cating sudah lama ia tinggalkan. Apakah ia ikut sedih melihat Jakarta kebanjiran? Musibah tahunan itu masih belum teratasi. Orang-orang yang tinggal di Jakarta: ada yang lama bermimpi bisa merebut pusat. Para intelektual dan petualang politik berpacu dengan waktu untuk bisa menguasai “pusat” itu.

Ia tinggal di Banyuwangi. Barangkali kekuasaan hanya menarik dalam diskursus. Seperti tak ada kemiskinan di situ. Penyair terus berusaha keras menambah beberapa alinea lagi dalam puisinya. Terserah Tuhan, mungkin, penyair itu kelak jadi apa. Bumi dan alam semesta masih berdenyut. Jumlah manusia memang semakin banyak, tapi bumi masih sanggup menampungnya, jangan cemas. Buatlah keturunan sebanyak-banyaknya, jangan takut kelaparan. Program KB (Keluarga Berencana) di era Orba sudah lewat.

Temannya sering mengaku, bahwa ia cepat ngantuk di depan layar monitor komputernya. Ada semacam kemauan yang tiba-tiba longsor diterjang banjir. Ia pikir alangkah baiknya dia membuat cerita ringan saja. Merekam dalam kata-kata sesuatu yang ia lihat. Melihat benda-benda yang ada di depan matanya. Kemudian ia menyusunnya dalam sebuah penceritaan imajis untuk sesuatu yang lain, yang baru. O alangkah indahnya. Ia memang menulis, tapi malas mengumpulkan data. Cakram matahari di siang itu membuat gatal kepalanya. Ia gemas sekaligus keras kepala ikut bersaing menciptakan dunia yang terbaik bagi dirinya.

Aku pikir manusia tercipta dari tanah dan air. Oleh sebab itu jangan sekali-sekali ingin membangkang. Tanah airmu di Indonesia. Perempuan dan laki-laki berkembang di situ, tiba-tiba mendapat identitasnya. Pengaruh feminisme dari Barat juga masuk di situ. Jenis kelamin yang memang berbeda dan untuk dipasang bisa membuat masalah. Oh, manusia zaman sekarang, katanya, di malam yang lirih. Akhirnya kami membunyikan radio. Mungkin esok malam hujan turun dengan ritme suaranya yang khas. Aku menyeberangi kali yang airnya coklat. Di sana, di belahan wilayah yang jauh, mereka mendulang emas.

Tema siang yang berhubungan dengan terik dan kerja membuat tangan berkeringat. Tubuh-tubuh yang juga berkeringat. Lidahmu mengecap rasa asin yang mengingatkan laut. Mungkin masih ada garam di gunung ini, sebelum ia meletus esok harinya. Memahat tubuh mahoni menjadi perempuan dengan payudara tipis mengkilap. Kami akan bertahan di puncak ini, memandang perempuan setengah matang mendaki bukit dengan kaki jenjangnya yang kuning gading. Adakah ekstase senja yang memayungi keindahan warna kulit? Se sosok tubuh yang kelak membuat narasi tentang gerimis.

Aku tergoda untuk berhenti sejenak di situ. Kami mempunyai tujuan yang diam-diam dikenali burung-burung gagak, burung nasar, dan elang hutan. Akhirnya kami pun ikut melayang bersama mereka, seperti ikut mencari anak ayam dan ikan-ikan. Perutmu ditandai dengan ikat pinggang yang dikencangkan, seperti menahan lapar. Cakram matahari di atas sana masih setia mencengkeram. Ia membawa bulir-bulir cahaya mengkilap dari pelangi. Surat cinta itu melayang begitu saja, seperti daun kering yang sudah semestinya gugur melayang ke tanah. Tapi mata kami berkedip, seperti mendapat hikmad atas penampakan yang baru saja kami saksikan. Barangkali kami tengah memperbincangkan jiwa.

Berilah aku sebentuk ilham untuk menelusuri kembali jalan gelap yang kau ciptakan. Kami siap mendengar suaramu yang, meski serak-serak basah, bisa menikam makna. Katakanlah sebungkah gagasan, di mana kami akan bergandengan tangan menelusuri jembatan nasib. Kami sudah gerah dengan kalimat-kalimat madu yang hanya memekarkan tubuh. Lelaki pejalan sunyi itu telah sampai di tepian pantai. Kembang kretek bergulir ditiup angin. Lelaki itu mengambil sebatang rokok dari sakunya dan langsung menyalakannya dengan korek api zipo. Tepi pantai yang sunyi. Ia memandang ke selatan, dilihatnya hamparan laut luas bertepi cakrawala. “Aku rasa keindahan ini tak bisa dijadikan puisi”.

Assalamualaikum, katanya. Kami ingin bekerja dengan biasa saja, menjalankan rutinitas sehari-hari sebagaimana biasanya. Seperti kami butuh makan minum setiap hari. Tak ada yang luar biasa. Jadi, apanya yang luar biasa? Yang bisa menembus waktu hanyalah hasil imajinasi. Kami mohon rutinitas kami itu tolong jangan diganggu. Bahwa Tuhan senantiasa bersama kita, itu pasti. Barangkali memang tak ada yang harus terlalu dicemaskan. Sejak lahir kita sudah menyerah kalah. Tapi kenapa ada yang merasa kalah? Apakah hidup ini selalu memperhitungkan menang - kalah?

Mungkin akan ada puisi yang jatuh malam ini. Meskipun kepercayaan lita pada manfaat puisi semakin luntur. Dan terbukti banyak orang tak menulis puisi. Dengan kata lain, hanya sedikit penyair, hanya beberapa saja yang mau jadi penyair. Realitas ini sungguh menarik: bahwa penyair yang “konsisten” adalah kegilaan yang sungguh mengherankan. Apakah ada yang diam-diam mengagumi “ketabahan” seseorang yang kerjanya hanya merangkai kata-kata seperti puisi? Sebagai penulis, mungkin kita telah ditakdirkan selalu mempertanyakan sekelebatan pikiran dan ingatan yang nonsens. Selalu mencatat sesuatu yang dikira baik.

Boleh jadi benar apa yang dikatakan Chairil Anwar: hidup hanya menunda kekalahan. Maka, selagi kita menunggu kalah, dan seakan-akan saat ini kita masih menang, hidup adalah perbuatan. Itu dinyatakan oleh Sutrisno Bachir, Ketua DPP PAN. Sejumlah orang telah banyak mengundang inspirasi, memang. Mungkin karena ia populer, punya daya magnit kuat yang menarik ingatan kita padanya.Dan kita sudah terlalu berlebihan bicara tentang partai politik. Ini, rasanya, harus segera disudahi agar tak jadi muntah.

Raden Fatah Yasin, lahir di Banyuwangi 1962. Dia adalah salah satu dari 8 penyair mutakhir 2009 Jatim. Koordinator LSM Blambangan Anti Korupsi (BLAK). Pemimpin Umum Majalah Budaya Jejak. Sejumlah puisi dan esainya tersebar di media massa Jawa Pos, Bali Post, dan lain-lain. Juga dimuat di buku Antologi Puisi Indonesia (KSI, Jakarta, 1998). Antologi tunggalnya “Gagasan Hujan” diterbitkan PSBB, 2004. Pencipta puisi terbanyak (1721 puisi) pada Lomba Cipta Puisi Online Telkom 2006. Sejak tahun 80-an aktif menggerakkan apresiasi sastra dan teater di sekolah-sekolah, membentuk komunitas seni dikediamannya, KR 79, disamping juga sebagai pengusaha kecil kerupuk ikan Palembang. Fatah Yasin yang juga sarjana Manajemen Keuangan, ini beralamat di Jalan Rinjani No. 79, Singotrunan, Banyuwangi. HP: 081358102106. Email: fatahynoor@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar